Lahan Tidak Memenuhi Syarat, Pembangunan Sekolah Rakyat di Gunung Tabur Kembali Tertunda
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, kembali menemui hambatan serius. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Berau, Iswahyudi, menegaskan bahwa lahan yang disiapkan daerah hingga kini belum memenuhi standar Pemerintah Pusat untuk bisa dibangun fasilitas pendidikan tersebut.
Saat ditemui di ruang
kerjanya, Iswahyudi menjelaskan bahwa tahapan land clearing baru
mencapai proses cut and fill. Itu pun dengan anggaran yang sangat
terbatas sehingga progresnya belum signifikan.
“Kita belum tahu
sampai mana cakupan land clearing kita. Dana terbatas, dan dari pusat
juga belum ada acuan untuk 2026. Tahun 2025 saja usulan kita ditolak karena
lahannya belum siap bangun,” ungkapnya.
Menurut Iswahyudi,
pemerintah pusat mensyaratkan lahan datar seluas 5 hingga 10 hektare. Syarat
ini disebut menjadi kendala besar bagi banyak daerah, termasuk Berau.
“Kalau yang diminta
setengah hektare, mudah didapat di perkotaan. Tapi 5–10 hektare tanah datar itu
sulit sekali. Aceh sampai Kutai Timur juga mengeluhkan hal yang sama. Banyak
daerah rawa yang harus ditimbun miliaran rupiah,” jelasnya.
Lahan yang disiapkan di Gunung Tabur pun belum memenuhi kategori siap bangun. “Untuk saat ini, belum bisa. Pusat minta lahan flat dan benar-benar siap konstruksi,” katanya.
Selain masalah lahan,
Dinsos juga menghadapi minimnya minat calon siswa. Tahun lalu, hanya sembilan
anak yang bersedia mengikuti Sekolah Rakyat, meski jumlah calon sebenarnya
banyak.
“Masalahnya boarding
school. Anaknya mau, tapi orang tuanya tidak mau. Tahun kemarin hanya sembilan
orang dari Nyuradab, Tubaan, dan Harapan Jaya yang bersedia,” terangnya.
Padahal, target ideal
Sekolah Rakyat di Berau adalah sekitar 100 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan
SMA.
Meski pembangunan
Sekolah Rakyat terhambat, Dinsos Berau tetap menjalankan program pendidikan
bagi anak dari keluarga tidak mampu. Saat ini terdapat 16 pelajar yang
bersekolah reguler melalui jalur provinsi dan tinggal di panti.
“Itu dari SD sampai
SMA. Mereka tinggal di panti dan berangkat sekolah setiap hari dari sana,”
jelas Iswahyudi.
Iswahyudi menegaskan
bahwa dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan program
pendidikan sosial.
“Walaupun fasilitas
disiapkan, kalau anak tidak mau sekolah atau orang tua tidak mengizinkan, ya
tetap sulit,” ujarnya.
Terkait pendanaan sosial, ia memastikan pihaknya tetap berupaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
“BLT masih tetap ada.
Meski ada pemotongan, kebutuhan masyarakat tetap kita upayakan bisa terlayani,”
pungkasnya. (sep/FN)